Mulai dari yang Kecil, Mulai dari yang Mudah-V

Mulailah dari yang terkecil dan termudah bagi anda, anggap bisnis sebagai adventure atau permainan biasa, karena kalau baru memulai kok langsung gede, ketika mengalami kerugian maka bisa jadi kita akan trauma, dan takut untuk memulai lagi..

Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan :
(Link: Mulai dari yang Kecil, Mulai dari yang Mudah-IV)

Toko kami yang ke-4 ini bener-bener kami jadikan ajang untuk ber-improvisasi, baik cara promosinya maupun mengatur tata letak interiornya.
Misalnya :
1. Kami beriklan di Radio, dan suara Astri Ivo mengiklankan toko kami sehari 3 kali di radio-radio yang rating-nya paling bagus di kota kami, dan anggaran untuk ini ternyata cukup hanya Rp.300.000-400.000/bulan di setiap radio...(Murah ya, iklan radio di kampung..)

Berapa kami harus membayar Astri Ivo untuk beriklan..? Jawabannya GRATIS...dan perjalanan kami bisa mendapat iklan gratis ini bisa dibaca pada blog saya 3 tahun yang lalu.
Dan bagaimana Mbak Aci (panggilan untuk Astri Ivo) bisa dibaca pada Link dibawah ini :

2. Tata lampu juga kami atur, seperti toko-toko yang modern di jakarta, banyak sekali lampunya, dan ada efek-efek pencahayaan3. Letak meja kasir berada di depan, di pintu masuk, ilmu ini saya jiplak dari tokonya Brad Talk, dengan menempatkan kasir di depan maka ada kesan toko rame sekali, karena orang yang antree bayar, meski hanya 2 orang misalnya akan terlihat dari luar seperti kerumunan, dan ini menarik perhatian orang untuk datang.4. Lantai toko kami beri karpet dan tempat duduk panjang yang empuk, dan orang akan betah karena mereka bisa mengaso lesehan di lantai atau sandaran di bangku panjang, padahal dalam ilmu retail katanya, kalau bisa menahan orang selama 20detik di toko kita, maka kemungkinan seorang customer untuk membeli barang adalah 80%...(dan fasilitas lesehan ini bisa menahan mereka lebih dari 15menit..hehehe lebih gede lagi kan kemungkinanya)Dan masih ada strategi lain lagi yang kami terapkan, dan anda bisa membacanya di postingan saya 3 tahun yang lalu juga :


Aktor di lapangan yang melakukan itu semua adalah adik saya Yoyok (Waktu itu Yoyok juga masih ngantor di Bank-nya) dan istrinya Obi, sedangkan Istri saya, dan anak-anak masih tinggal di Bekasi, dan saya masih ngantor di Karawang.

Step membuat toko ke-1,2,3,4 sudah kami lewati dan ini membuat kami berani mengambil peluang ketika produsen kerudung terbesar saat ini Rabbani, di Bandung mengeluarkan ide untuk membuka distributor-distributor (di Rabbani di sebut Markas) kerudung Rabbani di seluruh titik-titik strategis di Indonesia, dan kami termasuk generasi awal di Rabbani yang termasuk nekad, karena untuk menjadi Markas seperti ini membutuhkan dana besar, yang impossible bagi kami.

Kalau uang di kantor saya tabungkan, dan kami hanya makan nasi+tempe selama 10tahun, barulah kami bisa endapat dana sebesar itu..hehehe..

Tapi enggak tahu kenapa kami nekad sekali, dan lagi-lagi kami menjual ide kami kepada Investor-investor, dan yang paling besar diantaranya adalah saudara kami yang memiliki rekening koran “nganggur” di bank yang bisa kami pinjam.

Ya..inilah pertama kalinya kami nekad menerapkan strategi BODOL (Hehehe...ini istilah paling terkenal di telinga temen-temen EU, Berani-Optimis-Duit-Orang-Lain), dan inilah babak baru perjalanan bisnis kami yang memanfaatkan PRK (Pinjaman Rekening Koran) dari dua bank Nasional terbesar di kota kecil kami.
Untuk mewujudkan mimpi ini kami bener-bener habis-habisan mengeluarkan segenap upaya kami. Yoyok mengajukan resign ke Bank yang menjadi sumber utama nafkahnya, dan saya nekad memulangkan anak dan istri ke kampung, berpisah dengan saya, yang masih di Bekasi...Subhanallah...ini adalah langkah paling berat dan paling gila serta tidak habis di mengerti oleh saudara-saudara kami di kampung...mau apa sih sebenernya kami-kami ini..?

Step-step Yoyok keluar dari tempatnya bekerja, pernah saya ceritakan juga di blog ini, link-nya salah satunya ada dibawah ini

(Link: Step-Step Adikku Resign dari Bank-nya)
(tulisaannya berseri dan saya tulis di bulan Maret sampai April tahun 2007):

Kami menyewa tempat yang cukup besar, ada kalau 200-250 M2 kayaknya, dan nilai sewanya cukup aduhai menurut kami, dan akhirnya berdirilah toko kami yang ke-5 yang di Wonosobo terkenal sebagai toko Rabbani. Tempat ini adalah Distributor utama produk-produk kerudung Rabbani untuk daerah Jateng dan DIY, sekaligus sebagai pusat retail sentral kerudung dan busana muslim.Dana dari pihak ke-3 yang kami alokasikan untuk toko ini cukup besar, dan setiap langkah dalam perjalanan untuk membuka tempat ini ternyata memerlukan anggaran yang tidak sedikit, yang kadang-kadang tidak kita pikirkan sebelumnya.Misalnya untuk opening ceremony saja anggaran yang dikeluarkan jauh lebih gede daripada anggaran untuk resepsi pernikahan 3 pasang penganten di kampung..hehehe...mumet deh..Bagaimana mumet dan hebohnya proses pembukan toko kami yang ke-5 yang menghadirkan Artis dengan Ikon kerudung paling terkenal di Indonesia itu akan kami tulisakan di postingan saya selanjutnya...

Ternyata sebagaimana kita bekerja dulu, ketika kita menerjuni dunia bisnis, kita harus dinamis untuk improve-improve terus,

"Hati-hati dengan Zona Nyaman, meskipun kamu sudah full TDA loh..." Kata sahabat saya dari Yogyakarta yang sudah sukses, namanya Pak Bambang Triwoko (http://betigaklaten.wordpress.com)

"Kamu harus tetap menciptakan hiu-hiu terus, supaya kamu terus kepepet, karena kalo kepepet ide-ide baru terus akan muncul.." Katanya..

Semoga Tulisan ini menginspirasi anda, dan nantikan sambungan dari tulisan ini ya...

"Kalau bisnis kita sebagai petualangan, maka ini akan memberikan spirit luar biasa kepada diri kita. Selamat menikmati petualangan bisnis anda"

Salam FUNtastic..!

Hadi Kuntoro
http://www.rajaselimut.com
http://www.rabbani.asia
http://www.hadikuntoro.blospot.com

NB :
Setelah di pakai oleh dokter-dokter di Rumah Sakit Siloam Tangerang, kini Selimut Jepang sedang di uji untuk di pakai di RS.Sardjito Yogya. Hasil uji dengan mesin cuci di Rumah Sakit, ternyata tidak ada sedikitpun bulu yang rontok.

Ketika coba keringkan dengan pengering yang ada pemanas hingga 80% selimut kami rusak. Kami sudah info agar jangan dikeringkan pakai pemanas, tapi karena memang disengaja oleh Pihak RS ya gak apa-apa, karena standard pengeringan memang ada 2, Hot & Cold, saat ini sedang si coba dikeringkan pakai pengering tanpa pemanas...moga-moga bisa sukses ya...Amiin

3 komentar:

Evi Indrawanto mengatakan...

Kalau sudah membaca posting Pak Hadi, saya merasa dunia tidak punya tempat untuk para pesimis. Kalau mau belajar dan mau menerapkan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini ya Pak. Salam hebat!

adi mengatakan...

saya cukup merasa bangga sama kesabaran Pak Hadi krn dari mulai dia bekerja (TDB) sampai dia TDA memang saya jg Baground hampir sama dengan Pk Hadi tapi masih di tengah jalan krn Baru Resign juga dn buka usaha yg sedang berjalan dan di dorong semangat oleh cerita fakta pk Hadi....terimakasih"(Adi)

adi mengatakan...

saya cukup merasa bangga sama kesabaran Pak Hadi krn dari mulai dia bekerja (TDB) sampai dia TDA memang saya jg Baground hampir sama dengan Pk Hadi tapi masih di tengah jalan krn Baru Resign juga dn buka usaha yg sedang berjalan dan di dorong semangat oleh cerita fakta pk Hadi....terimakasih"(Adi)