Ibu..Aku Patuh Kepadamu...

Minggu pagi 2 September 2007.
Sabtu malam saya tertidur jam 8 malam, dan terbangun jam 12.30 dinihari, buka2 blog, buka2 dan balas email, yang curhat, yang minta dibimbing, yang pesen barang...hingga sampai subuh. Pergi Jamaah ke masjid dilanjut kuliah subuh sampai 5.30...

Ada perasaan damai dihati yang lain dengan hari2 biasa, makanya saya buru2 telpon Interlokal menyapa Ibunda tercinta...suara disana terdengar tidak ceria seperti biasanya...
Ibu semalam bangun jam 12 malam (kok sama ya..?) dan yang terbayang di mata ibu itu kamu terus...ada apa sebenrnya dengan anakku ini..? Ibu merasa resah dan gelisah hingga dinihari yang biasanya shalat malam, tapi dinihari ini malah menyalakan TV, ada gambar, ada suara tapi Ibu tidak serasa tidak melihat apa-apa...Ibu cemas dengan dirimu akhir2 ini...

"Yang kurang darimu adalah TIDAK ADA RASA BERSYUKUR, apa sih kekurangannya sekarang..? Rumah kamu sudah punya, mobil dapat tiap 5 tahun, gaji cukup kok kamu malah sering memforsir diri tiap malam tidur dinihari, bahkan sering berkata ingin mandiri-ingin mandiri, Ibu tidak tahu dan tidak habis pikir apa yang menyebabkan semua itu..?
Biarkan hidup susah seperti masa lalu cukup Ibu saja yang menanggung, saya tidak ingin anak-anak saya rekoso (hidup susah) seperti Ibu.
Mumpung masih muda, nikmatilah hidup kamu dan hargailah perjuangan ibu.
Sering sekali banyak temen2 Ibu datang kerumah yang membawa anak2nya yang baru lulus sekolah dan minta dititipkan kepadamu siapa tahu kamu bisa membantu, karena dia sudah daftar dan test kemana-mana tidak diterima, eh kamu yang sudah enak-enak malah begitu..
Cari kerja itu sulit sekali sekarang ini...
Berdagang juga begitu, sekarang sudah tidak seperti dulu lagi...padagang2 itu hanya untuk nyambung hidup saja...Sudahlah..pikiran aneh2 itu dihilangkan saja dan hiduplah kembali normal..."

Ingin rasanya menerangkan banyak hal dengan lancar dan gamblang, tapi tenggorokanku tercekat seperti ada yang menyumbat...tidak bisa berkata apa...

Aku raih segelas air putih agar sedikit nyaman..berkata-kata...namun masih terbata-bata...
Hingga akhirnya kutemukan kata2 kepasrahanku........
"Ibu, netralkan saja perasaan Ibu, bukan hanya ibu yang bingung, saya sendiri juga sering bingung terhadap diri saya sendiri....apakah saya yang bener atau Ibu yang bener hanya Allah yang tahu..bantulah saya dengan Ibu shalat istikharah...dan ibu tenang saja, apabilapun saya sudah ada puluhan milyar ditangan, dan punya bisnis besar dengan kemungkinan berhasil 99% menurut perhitungan saya, tapi kalau Ibu tidak ridlo, saya tidak akan ambil keputusan itu......jadi ibu tenang saja cukup bantu saya istikharah..dan sampaikan ke saya hasilnya kalau Ibu sudah merasa mendapat petunjuk dari NYA. Kalau petunjuknya itu adalah saya harus tetap TDB, meski betapapun getirnya, saya akan tetap TDB hingga pensiun umur 55 tahun nanti tiba..."

"Apa yang nanti akan kamu lakukan kalau kamu gagal..?" kata suara disana terdengar mereda...
"Ya..saya akan seperti dulu lagi...saya akan hidup di kampung dan numpang makan sama ibu bersama anak dan istri...boleh kan..?"Suara disana makin lirih....dan saya tahu beliau tersenyum...Tidak terasa saya sudah interlokal selama 1 Jam....

Aku merasa menjadi anak kecil lagi...
Tidak terasa ada beban lagi....
Seperti keceriaanku dimasa kecil ketika minggu pagi berlari-larian mencari kepiting di sawah atau jengkerik di halaman atau di kebun, minggu pagi ini aku berlari-lari di sawah dan kebun juga..tapi sawah dan kebunnya di Tanah Abang....disana kami bermain pasar-pasaran bersama temen2ku dan aku diberi uang-uangan oleh Pak Haji teman besarku, karena aku menjual kepiting2 mainanku....

Hadi Kuntoro

5 komentar:

*Fajri Salim* mengatakan...

Pak Hadi.... posting nya mengingatkan saya pada ayah bunda nunjauh disana di tanah air,hal serupa sering saya alami. ini mungkin dilema jauh dari orang tua,khawatir,rindu,bahkan perasaan tidak bisa membahagiakan orang tua sering menghantui seiring dengan langkah yang kita jalani,dikala kita telah mendapat kemapanan materi ternyata itu tidak cukup,dan belum tuntu menjadikan orang tua lapang dada,bahagia dengan keberadaan anaknya yang sekarang,,,ternyata ada "faktor lain", faktor lain inilah yang harus kita cari titik temunya antara ibunda dan diri kita dan itu memang tidak mudah untuk menyamakannya, kadang menurut kita baik,rasional ternyata aneh dimata orang tua,dalam agama kita kita diwajibkan patuh pada orang tua untuk hal-hal yang baik (sesuai agama) dan agama pula yang melarang kita untuk tidak patuh pada orang tua yang menyeru pada yang dilarang agama...walaupun demikian tetap dengan hikmah,dan tuturkata yang mulia seperti kisah nabi ibrahim dan ayahnya. apalagi kalau orang tua kita yang menginginkan yang terbaik bagi anaknya tentunya ini adalah wujud kasih sayang dan kebaikan beliau walaupun pada nyatanya kadang bersebrangan dengan cita-cita kita.ternyata...baik menurut kita belum tentu baik menurut beliau, itupun terjadi pada saya. saat seperti ini apa yang bisa lakukan? seperti anjuran agama, kita tetap "biriwalidain" berbuat baik pada orang tua.dengan menjaga perasaannya,tidak membantah,sambil terus mencari titik tengah perbedaan itu dengan cara hikmah..semoga pak hadi sukses dalam membahagiakan orangtua dan sekaligus sukses dalam bisnis....amiin.

Salam kekeluargaan

Fajri

anugerah perdana mengatakan...

pak hadi, saya agah @ bdg, salah seorang netter yg sering berkunjung kesini, tapi ngga pernah ngetuk pintu (maaf...)

setelah baca postingan ini, saya jadi sadar, bahwa gesekan saya dengan orangtua sebenernya ngga serumit yang pak hadi alami.

Nuhun pisan pak
Moga Allah beri keikhlasan



Adikmu (ngaku2 :D)
Agah

Anonim mengatakan...

Subhanalloh. ..indah dan dalem banget pak hadi....

Saya jadi ingat kisah seorang yg dipesan menjual sapi oleh ibunya yg saking amanahnya dia nggak mau menjual lebih dari yg dipesankan ibunya karena ingin Amanah dan taat pada ibunya. Dan ketika pulang dia ceritakan tentang seorg yg menawar lebih tinggi dari harga ibunya dan sang ibu akhirnya berpesan agar esok dijual sesuai tawaran org itu. dan tyt yg datang menawar lebih tinggi lagi,si anak tetep berpegang pd pesan ibu krn ingin amanah dan taat pd ibunya...kejadian berulang hingga tiga kali sampai yg terakhir sang pembeli yg tak lain adalah malaikat yg diutus Alloh berpesan agar tidak usah menjual sapi itu. karena suatu hari akan ada yg membutuhkannya.

Dan subhanalloh tyt akhirnya sapi itu dibeli dg harga emas seberat sapi itu.(saya mendapat kisah cerita ini dari guru agama SMA ketika pengajian tafsir surah Albaqoroh)

Hikmah dari kisah ini adalah Ketaatan seorang anak dan amanahnya pada pesan sang ibu...bahkanpun ketika ditawarkan kenikamatan/ harga yg lebih dia tetap memilih amanah pd pesan ibunya....dan Endingnya sangat indah..yaitu dia mendapatkan balasan dr ketaatannya itu..Subhanalloh.

Insya Alloh pak hadipun akan mendapatkan hikmah besar dari ketaatan pak hadi pada ibu. Apalagi diiringi istikharoh dan doa dari seorg ibu......saya kagum sekali pak hadi.

Salam hormat utk ibundanya pak hadi....

Sukses selalu utk Anda!

YUNI UMUAZAR
MESIR

Rizki Eka Putra mengatakan...

Hal serupa sedang saya alami! ada ganjalan dalam diri ini! tapi kadang sempat terpikir menjadi orang yg kufur nikmat! Hal itu selalu berputar-putar, keinginan untuk dapat mandiri dibarengi dengan ketakutan -ketakutan apabila nantinya... itu selalu yg terpikir.

Mungkin hidup pak hadi lebih sejahtera dibanding saya. Sekarang saya hanyalah pegawai swasta yang alhamdulillah dapat menghidupi anak istri. Secara kasat mata orang akan bilang tinggal menjalani saja! Tapi bagi saya tidak seperti itu! Ada cita-cita yang sedang diwujudkan dan menjadi bagian dari orang yg dapat menjadi jalan buat orang lain.

Mudah2an tulisan pak hadi ini makin membuat saya yakin dengan cita2 saya!

Amin, mohon doanya!

danang mengatakan...

terima kasih, pak.
saat ini saya sedang di persimpangan. dan banyal dapat masukan dari ibu dan bapak. saat ini saya sedang menunggu saran dari ibu saya. apakah lanjut ke TDA atau tidak.

Terima kasih