Ketika "Everyday are Sunday"

Judul diatas mohon maaf, saya tidak sedang membuat anda yang masih bekerja sebagai karyawan merasa kepanasan, hehehe..saya hanya ingin berbagi cerita, dan mensyukuri 1 hal.

Satu hal itu adalah, berkah yang paling berharga setelah saya resign dari tempat kerja dan terjun ke dunia bisnis adalah, saya tidak perlu melingkari tanggalan untuk bisa bertemu dengan Ibu. Kapan saja kangen ingin menikmati makanan buatan Ibu tinggal pulang saja ke Karangkobar, sebuah kecamatan kecil di pegunungan Utara, Kabupaten Banjarnegara.
Jaraknya sekitar 30km dari kabupaten Banjarnegara, sedangkan kabupaten Banjarnegara sendiri adalah tetangga kabupaten dengan Wonosobo, tempat saya, Istri, dan anak-anak bermukim. Jarak antar Wonosobo-Banjarnegara = 30km, sehingga jarak Wonosobo Karangkobar sekitar 60km.
Untuk sampai ke Karangkobar, mobil kami harus mendaki pegunungan, dan jalannya kayak Ular, tidak ada jalan lurus yang lebih dari 200meter saat mulai mendaki, semua berbelok-belok sehingga yang tidak terbiasa bakalan pusing.Saya sering menyebut Karangkobar ini Negeri di atas awan, karena setelah Ashar, biasanya kabut turun, kadang sampai pagi hari, dan sehabis shalat subuh asap seperti orang merokok akan keluar dari mulut kita kalau kita sedang ngomong, karena dinginnya, dan bagi anak-anak pasti ini mengasyikkan.

Sore ini, Rabu 17 Desember 2008, saya dan istri meluncur ke Karangkobar. Kedatangan yang tanpa pemberitahuan ini sering saya lakukan, sengaja untuk membuat Ibu saya Surprise.

Saya melihat meja makan kosong tidak ada makanan terhidang, Ibu baru saja tiba dari pasar Pejawaran (pasar yang jaraknya sekitar 8km lebih mendaki lagi, sebuah pasar yang mulai ramai jam 6 pagi, dan usai jam 11 siang. Cepet banget ya..dan uniknya lagi ramainya hanya pas pasaran Wage saja. Cerita unik mengenai pasar pejawaran ini pernah saya muat di blog saya dan menjadi bacaan favorit pembaca, dengan judul PESONA PASAR KAHYANGAN) dan meski meja makan kosong namun Ibu Jago sekali bermain sulap, dan tidak sampai 60 menit hidangan makanan terfavorit segera mengepul hadir di meja.

Sedemikian cepatnya..? Iya, karena bahan makanan favorit saya ada di sekitar rumah kami sendiri, Ibu kadang masak sayur pucuk-pucuk daun singkong, 10 menit memetik dan 20 menit langsung matang, tidak lupa dipetik pula cabe rawit, yang langsung di gerus dicampur bawang putih, dan tidak lupa di tambahin sedikit Minyak Jelantah dan Garam, ditambah satu satu lauk lagi tempe rebus dan digoreng, dihidangkannya dengan nasi anget...wah...menu alamiah, fresh dan murah ini tidak kalah rasanya dengan makanan di restoran terbaik yang pernah saya singgahi..heheh..Dan khusus menu hari ini ada hidangan spesial lain lagi, yakni Ibu memetik daun talas (ditempat kami disebutnya JANGAN LUMBU, Jangan=sayur, dan Lumbu=daun talas) dan memasaknya di campur dengan petai, lagi-lagi dengan sambal juga, dan saya suprise juga karena ada menu yang enggak biasanya yakni semur jengkol...hehehe...ini tidak biasa, karena saya biasanya makan jengkolnya mentah..hehehe...lebih parah kan..? Mungkin makanan2 diatas rendah kandungan gizinya..hihihi...tapi justru karena itulah saya suka...

Sambil makan siang, kami biasanya saling Sharing, seperti apa bisnis Ibu dan seperti apa kondisi kami, dan apapun yang dikatakan Ibu saya selalu berusaha mendengarkan dengan seksama, karena dari beliau yang tidak lulus SD, justru saya banyak mendapat ilmu luar biasa.

Topik obrolan ringan hari ini masih melanjutkan diskusi beberapa hari yang lalu yakni Kunci sukses dalam berbisnis, yakni kuncinya adalah DUIT, yang sekilas pernah saya tulis di artikel Bagaimana Ibu Saya Menghadapi Krisis Global Di Kampung

DUIT menurut versi Ibu adalah Doa-Usaha-Istiqomah-Tawakkal ( ditulisan sebelumnya saya menulis T=Takwa, teryata menurut versi Ibu adalah Tawakkal)

Setelah berdoa memohon kepada Allah, jangan lupa berusaha (Action) dan jangan menyerah, lakukan ini terus menerus (Istiqomah/persistence) dan yang lebih penting lagi, di ujung-ujung harimu, serahkan semua yang telah kamu lakukan itu pada Allah, dan bentuk penyerahannya itu ada 3, Lisan, Hati/keyakinan, dan perbuatan..

Mmm..saya jadi ingat salah satu kunci Law of Attraction, yakni "Let it go, and Let it God". Saya garuk-garuk kepala, ternyata ilmu-ilmu yang menurut saya terbaru dan tercanggih ini sudah di jalankan oleh Ibu saya jauh-jauh hari sebelum saya mengikuti seminar-seminar hebatnya di Jakarta..hehehe..

Memang, secara materi beliau (Ibu) bukanlah apa-apa.(Lha wong kadang jualannya saja kadang omsetnya sama dengan ongkos transport-nya, itupun berangkatnya pagi-pagi sekali, menembus dinginnya kabut tebal Negeri di Awan),..tapi ketenangan, ketabahan, kesabaran, kebijakan..wow..kalau level saya baru 1 meter, level beliau sudah lebih dari 10 km.!

Semoga Tulisan ini berguna bagi anda..
Salam Hangat
Hadi Kuntoro
http://hadikuntoro.blogspot.com/
http://rajaselimut.com/

Note :

Agenda di Karangkobar (di kampung Ibu) yang cukup menarik lainnya yaitu saya sedang dalam proses membuat outlet-outlet Offline Rajaselimut.Saat ini kami sedang ujicoba membuat semacam prototype toko khusus peralatan tempat tidur yang berkarakter khusus, dan sengaja untuk trial kita turun ke level paling bawah yakni pasar-pasar di pegunungan, di kebupaten-kabupaten sekitar kampung kami, dan kita akan coba membuatnya dengan budget yang seminimal mungkin, tapi hasilnya diharapkan veri2 optimal.....

Setelah outlet2 percontohan ini berhasil, maka nanti kita akan membuat replika-replikanya ke segala penjuru dimana agen atau dealer-dealer Selimut Jepang kami berada...so pada bersabar tunggu saja ya...nanti giliran anda Insya Allah sampai kok..

8 komentar:

Fico mengatakan...

Posting jam tiga pagi..
salut ui masih bangun aja pak Hadi..
sukses buat prototipe outletnya pak..

Irwan The Chapter mengatakan...

Ha...ha.... mas Hadi tuh sampai sempet2nya foto-foto makanan...
jadi pengen mampir nih......

Salam takzim buat ibunda

kigedhe mengatakan...

assalamu 'alaikum mas hadi..
saya panggil mas saja ya biar lebih familier...

wah terheru banget lho saya baca postingannya..ls inget ibu saya d rumah...sp menitikkan airmata mas...
bener...

kl ga keberatan pingin jd temen, syukur jd sdr..

HADI KUNTORO mengatakan...

Hallo Mas...saya dengan senang hati tangan terbuka dan veri2 welcome..menerima kehadiran anda..kalau anda mau sharing2 main ketempat kami silahkan saja...
Salam hangat...

To.Mas Fico: heheh..posting jam 3 pagi krn kebetulan belum tidur saja..

to Mas Irwan:
Sekarang kemana-mana asal bawa hp kan bawa kamera juga, jadi motret apa saja guampang...success 4U..!

faizin mengatakan...

Hallo Mas...
Postingan sampeyan yang terakhir2 ini membuat aku tambah "meriang", kapan bisa segera mengikuti jejak sampeyan ya? Sebenarnya aku tiap OL nyambangi blog sampeyan, tapi baru kali ini kasih comment.

Oh ya, mampir ya Mas?? kasih aku support...

Satrio mengatakan...

Wah itu menunya bisa untuk buka kafe di Jakarta Pak he..he..
Sukses untuk prototype nya ya Pak

Hasyim mengatakan...

Salam,

Salam kenal Pak Hadi, yang membuat saya salut dengan Pak Hadi adalah sosok Ibu Pak Hadi yang selalu di munculkan. Salam untuk Sang Ibu Pak dari saya yang sudah tidak dapat lagi bercengkrama dengan Ibu tersayang.

Sukses selalu Pak.

Salam

bhayoe_27 mengatakan...

enak tenan kang sambelnya, jadi inget masakan ibu......sayang di kalimantan gak ada yang seenak itu.....saya jg wong mbanjar kang