Nikmatnya Menjadi Diri Sendiri

Sobat sekalian, Membuat Diri Saya Menjadi Orang Lain adalah pengalaman saya sangat menyiksa, dan saya berniat tidak akan mengulanginya lagi, Kepok deh..

Kejadian ini saya alami ketika kuliah sekitar tahun 93, ketika perjalanan hidup saya sedang dalam episode penuh bunga dan warna-warna, yakni episode ketika saya mendekat seorang gadis untuk saya jadikan pacar..seru kan..?

Seperti jamak lumrahnya laki2, sayapun ingin dipandang sebagai sosok yang sempurna bagi gadis pujaan saya. Saya yakin kebanyakan gadis2 menginginkan pendaping yang ideal, yakni Ganteng, Pinter, Tanggung Jawab, Jujur, Kaya Raya,Baik Hati..(hehe..iya nggak para pembaca..? saya yakin banyak pembaca pembaca blog saya yang wanita).

Untuk ganteng, saya emang gak punya sejarah nenek moyang yang ganteng, jadi ya sudahlah, untuk yang satu ini saya emang menyerah, saya sudah berulang kali foto baik di studio maupun di potret temen2 dengan gaya yang saya buat2 tapi kalau saya lihat jadi malu sendiri. Pernah rambut saya gondrongin sampai sebahu, dan di foto..wah jan..wagu tenan kayak Totok Thewel..hehe..berbagai potongan rambut saya coba dan di foto..yo wes-lah..emang kayaknya wajah saya nggak mau bersahabat dengan foto atau cermin...ya sudah..terpaksa ngalah apa adanya saja..

Untuk Pinter, saya sebenernya gak pinter cuma telaten. Kalau orang Cerdas baca buku sekali dan langsung ngerjain ujian bisa, kalau orang pinter baca 2-3 kali bisa, nah saya kalau baca buku pelajaran musti butuh diulang 5-6 kali baru bisa..., dan karena saya telaten banget akhirnya UMPTN bisa masuk, tapi ya ngikutin kuliahnya setengah mati..kalau temen2 kuliah itu bisa menikmati jalan2, main dan tahu2 lulus, kalau saya musti mengurung diri bahkan sabtu dan minggu kadang belajar.....tapi hal ini tidak terlihat oleh gadis incaran saya, sehingga kalau sedang bertemu saya selalu melebih-lebihkan sikap dan pembicaraan saya agar saya memang terlihat sosok pria yang smart dan pinter...

Kaya Raya..? Nha ini yang menjadi kendala utama dan terbesar saya..! Kalau cukup saja barangkali sudah lumayan, tapi posisi saya itu dibawah cukup atau tepatnya memprihatinkan..! hehe..uang saku saya bisa 1/3 sampai 1/5 dari temen yang normal. Sehingga urusan mendekati wanita adalah masalah yang sangat pelik menurut saya. Cilakanya lagi, gadis yang saya incar itu sekolah di swasta yang umunya terdiri dari orang2 berada, dan indekost-nya pun di tempat yang bagus, dan malam minggu kost-kostan para mahasiswi itu bisa seperti pangkalan ojek, cowok2 yang anak2 orang berada apel malam minggu sekadar ngobrol di pojok2 teras, dan kadang2 membawa gadis pujaannya jalan2 menikmati keindahan Jogja.

Ini adalah siksaan yang paling berat buat saya, sebagai laki2 saya merasa jatuh harga diri, karena jangankan motor, sepeda onthel yang saya pakai di kampus saja adalah sepeda pinjaman kakak kelas yang kelebihan sepeda. Takut kalau2 sang gadis pujaan nanti minder dengan temen2nya dan ini membuat saya seringkali berkata dan bersikap bukan yang sebenernya.

Ya saya tidak jujur..alias sering berbohong mengenai kondisi saya, yang saya ingat misalnya..Saya ngomong punya beberapa sepeda motor dipakai buat usaha dirumah, dan dipakai kakak saya (padahal satupun saya tidak punya..hehe), oya, pada saat itu mahasiswa baru 1-2 yang pakai mobil, jadi pakai motor saja menurut saya sudah wah banget.

Datang apel malam minggu,karena jarak ke kost-nya lumayan jauh 5km-an saya tempuh pakai sepeda onthel butut, karena gengsi kalau nanti dilihat temen2 dan mahasiswa2 lain yang lagi ngapel juga, saya katakan saja saya datang pakai taksi, padahal keringatan mengayuh sepeda tadi belum hilang, dan sepeda saya umpetin di emperan toko..hehe..

Kadang malam minggu sang gadis saya ajak nonton bersama temen2nya..nraktir mereka nonton atau makan bakso , padahal untuk acara itu saya musti mengurangi makan jadi hanya 2x saja selama seminggu....

Nha..yang celaka lagi adalah ketika sang gadis berniat jalan2 dan ingin bertandang kerumah saya..wah ini nih..cilaka 12..! gimana nih..? aku kan sudah ngomong sedemikian dan dari omongan2 ku itu tersirat bahwa kami keluarga yang cukup berada. Dengan berbagai dalih aku bisa menghindar...takut,malu,gengsi...ntar gimana kalau dia tahu kondisiku yang sebenernya..? Dan sandiwaraku itu berlangsung sampai 2tahunan, hingga pada suatu hari ketika musim liburan tiba saya terkejut. Tiba-tiba si dia datang dan sudah di depan pintu bersama temen2nya..alamak...aku kebingungan, mau ditaruh dimana muka saya ini..? lagian dia datang juga ujug-ujug, nggak ngabar2in dulu jadi saya nggak sempat bikin alasan keluar kota bantu2 bisnis misalnya..(haha..emang bisnis apaan..?)

Rumahku yang berantakan,lantai rumah yang kotor, kebun kecil disamping rumah yang rumputnya tidak terurus, kandang ayam disamping rumah...oya Ibu kalau pagi abis subuh ke pasar, pulang sore, jadi rumah tidak terurus, sehingga kalau pulang yang masak dan mencuci baju kadang adik saya perempuan, kadang saya, ketika SMP saya malah yang sering memasak...wah pokoknya hari itu abis deh cerita gombal dan bohong besar saya selama ini , dan ajaibnya saya tidak melihat roman muka yang terlihat nyengir atau mengejek dari perempuan itu...entahlah dihatinya..yang jelas hari itu perut saya mules akibat katahuan bohong saya..hehe

Dan barulah beberapa minggu kemudian pelan2 saya mengaku bahwa kami adalah keluarga yang kurang berada...dan tentu saja saya tidak mengaku detail sampai masalah apel 5 km pakai sepeda onthel segala..dan belakangan itu menjadi cerita guyonan yang sangat menggelikan...oya, aku tidak pernah cerita, tapi gadis itu yang belakangan ini jadi ibunya anak2 mengetahuinya dari diari saya..hehe...dan saya baru tahu kalau sebenernya dia itu sudah tahu dan bisa membaca dari awal, dan tidak mempermasalahkan kok...padahal selama beberapa tahun itu aku bergulat dalam stress untuk hal yang sebenernya tidak perlu dilakukan, yakni TIDAK MENJADI DIRIKU SENDIRI...

Lucu ya..

Sobat, saya menceritakan hal ini agar menjadi refleksi, dan menjadi pembelajaran bahwa kita sebenernyta tidak perlu menutup-nutupi keadaan kita yang tidak perlu ditutup-tutupi. Belum punya bisnis, bisnis dan masih dapat kegagalan (baca=pembelajaran) terus menerus, baru memulai dan kecil banget, gak punya apa2 dan yang dimiliki baru keyakinan dan tekadnya, baru saja bangkrut besar (baca=ujian kuantum tingkat tinggi), masih bodoh (baca=perlu banyak belajar)..saya tahu persis ini gampang di tulis tapi sulit di praktekkan, apalagi kita ketemu dengan mantan pacar istri kita misalnya, ketemu rival/musuh bebuyutan kita di sekolah....ketemu gadis yang akan kita pikat...

Hehe..untuk yang terakhir ini ada kejadian lucu, ada temen yang pernah keluar negeri dan ketemu seorang gadis, sama2 dari Indonesia sebenernya, tapi kawan saya ini bicaranya cukup besar, dan dia berkata bahwa di kotanya doi punya restoran segala...apa yang terjadi..? ketika sang gadis pada suatu hari berkunjung ke kotanya bersama pacarnya, temen saya ini kebingungan, sampai akhirnya terpaksa mentraktir mereka di rumah makan besar dan bersandiwara seolah2 itu miliknya..lha kojur kan..?

Ada juga yang pulang kampung lebaran bela-belain sewa mobil yang sebenernya gak perlu, tapi agar ketemu mantan pacar terlihat keren, akhirnya meski THR pas-pasan buat sewa mobil gak apa2 deh..padahal pulang kampung dia bisa numpang temen yang gratisan..hehe..

Sayapun masih banyak belajar, dan alhamdulillah sudah lumayan enjoy untuk bersikap apa adanya.

"Mohon maaf ya, rumah saya hanya begini, seperti kost2an mahasiswa, saya gak punya kursi tamu, gak punya tempat tidur, gak punya perabotan2 layaknya rumah yang sudah 10an tahun.." itu adalah kata2 yang sudah saya hafal kalau Ketika ada temen2 datang kerumah saya baik itu temen2 online, yang datang dari sekitar2 Jabodetabek, Jatim, Jateng, yang dari luar pulau, pejabat telkom sulawesi, orang Jepang, temen2 online yang dari luar negeri seperti kuwait (Halo Pak Fajri..?) ,India (Hallo Mbak gita..?)

Begitu pula kalau bertamu, bertamu ke temen kantor memang saya kadang bawa mobil karena emang ada jatah kantor, tapi bertamu ke temen2 bisnis yang hanya mau sharing misalnya, meskipun ngobrolnya di hotel,restoran,meski yang ngundang kaya raya, saya lebih senang pakai motor, karena secara itung2an hasil bisnis memang saya belum layak untuk naik mobil...

So, saya mengajak sobat2 agar Menjadi diri kita sendiri, tidak perlu malu untuk menceritakan kegelisahan dan kegundahan anda saat ini meski anda harus bercerita kepada mantan temen kantor anda dulu yang sekarang sudah jadi manajer, tidak perlu malu menemui teman online anda yang sukses dan menginap di hotel, sementara anda menemui dia harus jalan kaki 3 km..? tidak perlu menghindar, tidak perlu sewa mercy...apapun kondisi kita, yakinlah tidak ada seorangpun yang mencibirkan kita, kecuali orang itu orang yang tidak tahu bahwa Sang Pencipta bisa membalik keadaan seseorang dalam hitungan detik...Jadilah diri anda sendiri...


Semoga anda terinspirasi..atau ada yang tersindir..hehe..ayolah gak usah dipikir terlalu serius karena kalau kita bisa menertawakan diri kita sendiri, itu artinya kita sudah bisa membaut kemajuan yang cukup dibanggakan...

Salam FUNtastic..

Hadi Kuntoro

http://hadikuntoro.com/

http://rajaselimut.com/

http://mysajadah/ .com

NB:Alhamdulillah, dalam putaran kedua, pemilihan Blogger Favorit di TDA, yang putarannya ini diikuti oleh 16 peserta saya menduduki peringkat kedua (16% suara) . Peringkat pertama diduduki sahabat saya Mas Wuryanano (http://wuryanano.wordpress.com/) yang mendapatkan 27% suara. Waktu pemilihan masih cukup panjang, masih sebulan lagi, anda yang mau memberikan suara untuk saya, silahkan Berkunjung ke http://roniyuzirman.com dan ikuti step2 berikut ini :


Ini adalah bagian dari kampanye terbuka di komunitas TDA (www.tangandiatas.com). Apakah anda sudah menjadi member..?

8 komentar:

WURYANANO mengatakan...

Hwehehehe...kisah nyata nih...
Tapi kok nggak diceritakan yang waktu itu Mas Hadi harus membagi jadwal temu dengan 2 gadis lainnya ya?

Jadi totalnya kan ada 3 gadis yang ditaksir nih...hehehe...sempat bingung mbagi jadwal apel nya...

Just kidding lho ya Mas.

Eh, saat saya baru Klik awal milih blogger, kan bisa di-cawang semua ya... Jadi saya cawang semua blog nya termasuk blog njenengan lho Mas, baru klik Vote... hehe...biar adil.

Tapi sayang sistemnya cuman sekali aja bisa cawang ya. Coba kalau boleh bebas tiap hari bisa beri suara terus dg men-cawang... hwekekekek...

Sukses Luar Biasa Prima Mas Hadi!

Salam buat keluarga ya.

Wasalam

anugerah perdana mengatakan...

pak hadi, karena postingan ini, saya akan secara sukarela memberikan suara saya kepada bapak

coblos !!!

Bunda Aysar mengatakan...

assalamu'alaykum wr wb
nice posting pak....
memang sih menjadi diri sendiri jauh lebih baik daripada harus berbohong.......(walopun jadinya lebih kreatif hihihih karena harus mikir cari segudang alasan...hiehiiheihe....
pengen mampir kalo ada kesempatan ke jakarta pak... :)
saya vote ya untuk jadi blog terbaik :) amin

salam dari bali
wassalamu'alaykum
bunda aysar
www.bundaaysar.com

Muhammad Rivai mengatakan...

Hahaha,

Membaca tulisannya pak Hadi ini bikin saya terkikik sendiri karena pengalaman saya mirip-mirip.

Setelah menikah sekarang ini saya suka bilang, "Jadilah diri sendiri, tidak usah menyembunyikan fakta", padahal dulu waktu PDKT ya segala apa yang ada diusahakan meski untuk itu mesti puasa beberapa waktu :-)

Ira mengatakan...

wah..ceritanya lucu banget pak ^^;
karena pengalaman bapak di blog bagus -bagus & lucu, saya sudah vote untuk blog bapak loh. good luck ya pak ^^

Alam mengatakan...

Hwa kakakkakak.... ceritanya lucunya pak sekalian nertawain diri sendiri, habis mirip sih

Choirul Asyhar mengatakan...

Pak Hadi,
Ceritanya sih happy ending, bukan memalukan. Buktinya gadis yang dibohongi terus itu sekarang jadi ibunya anak-anak.

Terus, Kalau sudah sukses, punya dan pantas pake mobil, tapi berpenampilan sederhana naik motor butut, itu termasuk mana? Pura-pura atau menjadi diri sendiri?

Salam PacaranTerusSamaIstri

Catur Arie Setiyani mengatakan...

Pak Hadi,

Kok ya mirip ya?
Saya juga dari keluarga tidak punya, tapi sekolah disekolah elite. Orangtua saya, ingin saya disekolah elite biar saya punya wawasan luas. Walau mereka harus utang sana-sini untuk biaya sekolah.

Tapi buat saya ini neraka, saya jadi siswa termiskin di sekolah. Dulu sempet malu banget klo ditanya rumah dimana? Bapak kerja dimana? Malu sama keadaan orangtua saya :((

Tapi Alhamdulillah, itu sudah lewat sekarang. Saya bahkan bangga sama Ayah saya walau hanya jadi petugas penjaga pintu kereta, mampu menyekolahkan anak-anaknya sampe kuliah.

Makasih ceritanya Pak, ini mengingatkan saya akan Ayah saya. Jadi nangis. Kok malah curhat ya?

Semoga Pak Hadi masih ingat sama saya ya? Orang Bekasi Juga nih. Saya Vote buat Bapak loh