Apa yang terjadi pada Samurai San-III (TAMAT)

Baca cerita sebelumnya di LINK INI "Apa yang Terjadi Pada Samurai San-II"

“Samurai San, boleh tidak nanti saya ikut hadir di persidangan” tanya saya..
“Boleh saja, karena persidangan ini terbuka untuk umum, dan nanti malah anda akan banyak tahu apa sebenernya inti masalah saya…” jawab beliau…

Apa sebenernya inti permasalahannya sampai dia ditahan dari tanggal 31 Maret 2009 hingga saat ini..? Dari beberapa kali saya mengikuti sidang untuk memberikan support kepada beliau, agar beliau semangat dan tidak merasa sendirian di negeri orang.

Dari beberapa kali mengikuti sidang terbuka untuk umum yang ternyata dihadiri juga oleh wartawan-wartawan itu saya lambat laun menangkap isi cerita secara garis besar yang menjadi pokok sengketa.

Sekitar tahun 60-70an, datang ke Indonesia seorang Pebisnis dari Jepang dan membuat pabrik selimut di Indonesia. Produknya sangat terkenal waktu itu bahkan hingga di kampung sayapun saya ingat produk itu termasuk produk nomor wahid yang dipakai baik oleh kalangan bawah maupun kalangan atas. Kemungkinan besar market share selimut berbulu di Indonesia waktu dikuasai oleh perusaaan ini yang sebut saja dimiliki oleh Mr.Hitori.

Perusahaan Mr.Hitori ini sangat besar dengan sekian ribu karyawan dan perusahaanya tersentralisir disebuah lahan yang membentuk cluster semacam kawasan Industri kecil.

Beberapa puluh tahun kemudian, sekitar tahun 2001 Samurai san datang ke Indonesia mendirikan pabrik selimut juga, setelah terlebih tercapai kesepakatan dengan Mr.Hitori untuk menyewa lahan hingga tahun 2011, di sebagain kecil lokasi yang dimiliki Mr.Hitori.

Tahun 2004, perusahaan Mr.Hitori mengalami pailit, mungkin karean efek bola salju dari krismon di Indonesai waktu itu, dan akibat dari pailitnya itu, perusahaan Mr.Hitori tutup, semua aset dan bangunannya ada dibawah pengawasan Bank, dan Mr.Hitori nya pulang ke Jepang.

Sedangkan Samurai San berusaha sekuat tenaga berjuang agar perusahaanya tetep bertahan dan eksis di Indonesia meski dilanda tsunami, yakni badai krismon akibat dolar menguat sedemikain hebatnya. Istri dan anaknya yang sebelumnya tinggal di apartemen mewah di Indonesia terpaksa dipulangkan ke Jepang, dan Samurai san menyewa tempat yang biasa-biasa saja yang lokasinya dekat dengan pabrik, adalah salah satu contoh perjuangan beliau untuk menghemat anggaran agar perusahaannya tidak ikut tergulung.

Mobil yang beliau pakai untuk operasional sehari-hari adalah Mitsubishi Kuda keluaran dibawah tahun 2000, dan bahkan kadang banyak yang melihat beliau berangkat dan pulang kerja naik sepeda Onthel..! (padahal dulu saya pergi bekerja naik motor saja rasanya enggak pede apalagi kalau bertemu temen-temen pimpinan kerja yang selevel…heheh…entar dikira orang pelit banget..hahaha…padahal dia yang presdir dan customernya tersebar di Eropa dan amerika saja mau begitu…..jadi malu deh…).

Sekitar tahun 2006, yakni ketika harga BBM naik membumbung tinggi, dan ada kebijakan pemerintah bahwa BBM untuk Industri harganya lebih mahal daripada BBM untuk kendaraan umum, Samurai san melakukan upaya cost reduction, yakni boiler di pabrik yang digunakan untuk proses pemanasan selimut, yang semula menggunakan BBM sebagai sumber pemanas diganti dengan Batubara yang lebih murah.

Dapur pembakaran yang semula pakai BBM, ternyata perlu dirombak menjadi lebih luas agar bisa menjadi dapur yang berbahan bakar batubara. Dan karena membutuhkan tempat lebih luas itulah perusahaan samurai san “terpaksa” memperluas bangunan dan “merobohkan” atau menggusur bangunan semi permanen diluar area yang disepakati dalam perjanjian sewa lahan, kalau tidak salah dengar bangunan itu menjorok lahan seluas 200M2, yakni lahan yang statusnya masih dimiliki oleh Mr.Hitori.

Samurai san berpikir karena Mr.Hitori ada di Jepang dan status lahan itu juga ada dibawah pengawasan bank, maka proses ijin merobohkan bangunan semi permanen yang sudah tahunan yang tidak terpakai itu tidak menjadi persoalan, dan barangkali Mr.Hitori juga enggak akan keberatan dengan hal itu. Dan setelah ijin didapat dari Bank yang menjadi pengawas, pembangunannya pun dilakukan…dan inilah yang ternyata di kemudian hari menjadi sengketa…

Lewat perwakilannya di Indoensia, Mr.Hitori menuntut samurai san yang telah merusak bangunan yang secara sah masih menjadi milik Mr.Hitori, dan samurai san juga bersikeras bahwa tindakan beliau legal karena sudah mendapat ijin dari bank.

Lewat kuasa hukumnya di Indonesia itu Samurai san di laporkan ke aparat , dan aparat karena ada pengaduan terus melakukan penahanan sesuai prosedur hukum…dan inilah yang menghantarkan Samurai san ke tahanan. Dan dari beberapa sidang yang saya ikuti sepertinya Mr.Hitori melalui kuasa hukumnya menuntut Samurai San memberikan ganti rugi dan besarnya berapa saya enggak begitu tahu…tapi enggak sedikit kali ya, karena kalau tuntutannya hanya beberapa juta rupiah saja pasti ya dibayar dan habis perkara..hehehe…

Dan yang membuat Samurai San ditahan cukup lama, karena di penuntut sendiri berada jauh di Jepang sana, dan tidak pernah hadir di Persidangan sehingga setiap kali jadwal sidang tiba, nanti ditunda lagi karena saksi-saksi dari pihak yang melapor tidak hadir…dan persidangan berikutnya keputusannya ditunda lagi dst….wah..bener-bener penantian tiada akhir..dan harus sabar sekali…

Dari kejadian itu saya mangambil hikmah, bahwa kita yang sudah terjun di dunia bisnis harus hati-hati sekali, karena sekali saja kesandung di masalah hukum seperti ini akan kocar-kacirlah perusahaan kita, apalagi kita-kita yang masih masuk kategori UKM…usaha kecil micro..alias keciiilll sekali….dan masih kalah dengan Usaha Kecil Mili, apalagi yang sudah Usaha Kecil Centi..hehehe…kalau sudah menjadi Usaha Gede Makro (UGM) malah sudah aman kali ya….

Seandainya Samurai San pabriknya di lahan saya di kampung nun jauh disana, barangkali mau memakai lahan tambahan 1hektar kalau saya memang punya, apalagi di mau bayar misalnya, dan apalagi lahan saya adalah lahan nganggur ya cincailah…silahkan saja..hehehe..tapi ini lain..saya enggak ngerti deh urusan perusahaan gede-gede seperti itu.

Meski luasan yang menjadi sengketa hanya masalah lahan yang sebesar dapur rumah-rumah di kampung, tapi mungkin dipandang oleh di pelapor sebagai masalah yang sangat besar….dan memang akhirnya menjadi besar karena urusan ini merembet ke karyawan-karyawan yang akhirnya diberhentikan karena pabrik tidak bisa mendapatkan bahan baku untuk produksi akibat pimpinan perusahaanya beberapa bulan menginap di Lembaga Pemasyarakatan…

Dari semua pihak yang bersidang, saya melihat yang paling sulit adalah posisi Hakim….karena beliau harus mengambil keputusan yang seadil-adilnya dan memuaskan semua pihak yang bersengketa…dan pertimbangannya pasti macam-macam dan bikin pusing kali ya….kalau tetap ditahan entar gimana dengan ratusan karyawan dibelakang perusahaanya…kalau enggak ditahan lha wong secara hukum dia dianggap sah untuk ditahan…apa enggak pusing ya…makanya posisi hakim adalah posisi yang paling panas kata sebuah referensi yang saya baca, karena satu kakinya sudah dekat benget dengan Surga, satunya sudah dekat benget dengan Neraka..salah sedikit saja kepeleset ke bara api…subhanallah…

Sidang-sidang yang berjalan di bulan Juni, atau menjelang 3 bulan Samurai san ditahan, suasananya makin hari makin ramai, lama-lama kasus ini menarik perhatian wartawan karena di setiap persidangan di bulan Juni ini karyawan-karyawan dan keluarga karyawan banyak yang hadir untuk memberikan support.

Bahkan dari beberapa sidang yang saya ikuti, selalu ada perwakilan dari kedutaan yang hadir, dan kadang saya berpikir kenapa orang dari kedutaan itu tidak menghubungi Mr.Hitori di Jepang sono, dan suruh salaman damai saja kan habis perkara ya…lha wong tahun 2011 kontrak Samurai San di lahan itu juga habis kok..tapi gak tahulah..yang jelas masalahnya pasti enggak seremeh yang ada di kepala saya…hehehe…

Alhamdulillah..pada saat saya kembali ke kampung, saya dapat kabar dari rekan di Jakarta melaporkan bahwa Samurai san, per tanggal 18 Juni 2009 ini akhirnya diputuskan berubah statusnya menjadi tahanan luar, seneng sekali saya mendapat kabar ini….artinya setelah berada ditahanan sekitar 70 hari akhirnya beliau sedikit bebas…meski setiap seminggu 2 kali beliau masih harus menghadiri persidangan hingga menunggu keputusan Vonis…

Semoga beliau tidak mendapatkan vonis yang menghantarkan ke Lapas lagi…

“Mohon maaf ya…saya telah membuat anda ikut sedih dan saya menyesal karena belum bisa memberikan informasi kapan pabrik akan berjalan lagi” kata beliau..
“Never mind Samurai san…jangan pikirkan itu dulu, yang penting masalah anda beres saya sudah senang..” kata saya..

Kalau saya ada di posisi dia pasti sedih sekali, berada di negeri orang, sendirian keluarga dan anak istri ada di Jepang sana, eh malah masuk tahanan…dan bukan hanya itu, usaha dia yang selama ini dirintis dari nol dengan tetesan keringat dan perjuangan panjang saat ini terancam kesulitan besar menurut saya….

Samurai San, perjuangan anda di Indonesia sudah sangat hebat, dan menginspirasi banyak orang, dan saya tahu kepedulian anda terhadap anak negeri ini lebih besar, bahkan lebih besar dari kepedulian saya terhadap sesama di negeri ini…kalaupun toh akhirnya anda memutuskan untuk beristirahat dan memilih pulang kampung untuk membesarkan bisnis keluarga anda dari sudut negeri yang lain, cerita suka dan duka anda di Indonesia akan menjadi kenangan Indah bagi anak cucu anda…dan saya tidak akan menganggap anda pulang kampung karena menyerah kalah di negeri kami…” Bisik saya dalam hati…

Saya yakin pada saatnya nanti beliau akan menjadi orang besar yang akan senantiasa dikenang..paling tidak oleh saya anak dan cucu saya kelak..

Samura San Ganbatte Kudasai…(selamat berjuang…!)

Semoga cerita ini akan menjadi Inspirasi bagi anda yang membaca, dan saya menuliskan ini semata-mata sebagai catatan harian (diary) sebagai bagian perjalan panjang saya dalam dunia bisnis., semoga tulisan ini akan menjadi prasasti yang indah bagi anak cucu saya kelak di kemudian hari…Amiin..

TAMAT

Salam Hangat

Hadi Kuntoro
http://www.hadikuntoro.com
http://www.rajaselimut.com

8 komentar:

cony firdiansa mengatakan...

Wooow.. Salutt untuk perjungan Samurai San dan juga ketabahan Pak Hadi dalam menjalani cobaan ini.
Saya mendapat banyak pengalaman baru selama saya berdagang selimut jepang ini.
Terima kasih banyak.

Hendra Permana mengatakan...

Sepertinya Samurai San sudah memahami makna surat Al-Insyirah (94) ayat 5-6, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, (5) Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)"...

(insya allah)

Nilman mengatakan...

Ass. mas Hadi. Itu Samurai San berselisih dgn Hitori san ex-pemilik PT.Peony Blanket yg sdh pailit itu kah?

dimaz arno mengatakan...

Subhanallah,

Saya juga sering mendapat teman yang beberapa kali harus berhubungan dengan pengadilan gara2 ketipu.

Tapi mereka bisa aja tuh terus senyum, emang dasar mental pengusaha ya. Ini yang terkadang menghambat bisnis saya maju kali ya, takut untuk bekerja sama..

Terimakasih Pak Hadi atas sharingnya.

Salam Dimaz Arno dari Aliya Software House.

dody mengatakan...

salute kepada sang samurai

nadya mengatakan...

Pak Hadi, aku terharu membaca cerita tentang perjuangan Samurai San. Semoga dia mendapatkan keadilan dan bisnisnya bisa pulih kembali.

albudijaya mengatakan...

luar biasa memang orang2 besar selalu penuh dgn tantangan besar pula, moga kasus cepat selesai dgn adil

Anonim mengatakan...

Wahhh...menggetarkan hati!!! aku pengen punya jiwa sekuat dan sabar seperti Samurai San.